"Jika ku tahu akan seperti ini tak mungkin ku berada dalam kondisi seperti ini”
“prang..prang.......!!
Malam itu aku tak mengerti apa yang
terjadi. Terbangun dengan keadaan setengah sadar sembari tergerus oleh tangan
lembut yang selalau memberikan aku kasih sayang yang begitu tulus. Hanya suara
tergopoh-gopoh yang terngiang dalam telingaku.
“Ayok
Bangun kita pergi.....”
Dengan malas aku terbangun, melihat
sekeliling ruangan yang berantakan. Belahan cermin berserakan, belahan piring
disana sini. Orang-orang sudah mulai terbangun dengan kegaduhan itu. Aku masih
belum mengerti dan belum mengetahui apa yang sebeanrnaya terjadi. Aku ingin
betanya tapi pada siapa aku harus bertanya. Semuanya terlihat memanas dan
emosi.
Apa yang terjadi. Satu kata yang selalau
menghantui dalam fikiranku. Badan kecil yang hanya tertutup sarung tanpa baju,
tanpa celana. Mengikuti jejak kaki wanita setengah baya sembari tergopoh gopoh
berjalan menyibak kerumunan orang yang berdatangan. Entah itu menonton,
prihatin, kasihan yang di rasakan orang-orang. Aku hanya mengikuti jejak
langkah wanita itu. Tak perduli dengan waktu, tak perduli dengan asa, tak
perduli dengan sekeliling. Yang ada hanya pergi meninggalkan tempat yang
tadinya indah kini berantakan dengan serpihan-serpihan kaca yang berserakan.
Aku tak pernah sadar apa yang
terjadi malam itu. Tapi satu hal yang menjadi ingatanku bahwa malam itu terjadi
pertengkaran hebat antara kedua orang tuaku. Saat itu pula terjadilah yang
namanya pemutusan hubungan suami istri yang kebanyakan orang menyebutnya
perceraian.
Perceraian terjadi jika kedua
pasangan menemukan ketidak cocokan dalam mengarungi hidup. Satu hal yang aku
tahu tentang perceraian. Dan jika suatu ketika kembali adanya perhubungan maka
itu yang dinamakan dengan rujuk. Itulah yang di alami orang tuaku. Sebulan
lamanya kami berpisah dan kembali lagi kedua orang tuaku rujuk dan membangun
kembali puing-puing keluarga yang dulunya berantakan oleh amarah sesaat yang
mereka rasakan.
Hal semacam itu sudah lumrah terjadi
di desaku. Rasa amarah sesaat yang tidak bisa di hela sama emosi dan egois
masing-masing menyebabkan subuah pemutusan hubungan yang bisa saja terjadi
dalam hitungan waktu, hitungan hari bahkan hitungan bulan. Tapi yang jelas
pemikiran semacam itu sering menghiasi kehidupan masyarakat di desaku. Tak
tergkecuali wilayah yang menganut adat sasak ini menyuguhkan tradisi unik yang
terkadang berbeda dari logoka orang-orang yang seperti aku.
Rujuk terkadang menjadi momok
menakutkan bagi kalangan orang-orang tertentu. Karena rujuk tidak akan bisa
mengobati luka lama yang menyebabkan terjadinya perceraian pertama. Sebab luka
lama tidak akan bisa sembuah sepenuhnya walaupun ada yang namanya kesempatan
kedua. Pemikiran semacam itu sangat jarang terjadi di sekilingku. Masyarakat
yang berada diantara dua sisi moderen dan keterbelakangan makana kehidupan
zaman dulu menyebabkan pemikiran masih tetap berjalan di mana pada satu titik
fokus yang kadang menyebabkan gejolak damai antara pikiran, perasaan, dan
logika kehidupan.
Hidup harus tetap berjalan. Apapaun
yang akan terjadi, namun hidup tidak akan pernah berhenti jika perjalanan hidupa berada pada titik fokus satu arah.
Titik dimana yang menjadi tumpuan hidup tidak selamanya lurus. Mesti ada
halangan yang menyebabkan titik fokus hidup itu harus berubah dengan
sendirinya. Realita kehidupan dalam lingkungan harus serah dengan lingkungan
yang berada dua langkah dari halaman rumah. Keramahan, tutur sapa yang
semestinya berasal dari keikhlasan seakan tak pernah ada dalam lingkunganku.
Penilan bukan hanya dari luar
melainkan dari dalam. Itu memang pepatah yang lumrah terjadi, namun beda halnya
dengan wilayah yang menjadi tempat tinggalku. Dimanan orang-orang yang bimbang
membawa kehidupan semacam apa yang mereka inginkan. Terkadang bersikap moderen
namun pemikiran masih jalan di belakang. Terkadang penilaian orang tidak selalu
sama dengan apa yang menjadi kenyataan dalam hidup. Namun inilah wilayaku. Aku
tidak bisa merubahnya seuai dengan apa yang aku inginkan.
Inilah yang terjadi pada keluargaku.
Bermula dari tutur sapa, ramah tamah tetanngga yang keseharian berintraksi
bersama ternyata mengandung arti berbeda dari yang dibayangkan. inilah yang
menyebabkan malam yang emosi itu terjadi. Bermula dari cibiran tetangga yang
mengatakan ibuku haus akan uang, dan tidak bisa menyimpan uang, hanya bisa
bersenang-senang membuat ayahku termakan oleh cibiran itu.
Berselang satu bulan, orang tuaku
kembali rujuk dan mengarungi kehidupan rumah tangga kembali. Dan aku menjadi
korban ego dari keduanya. Aku tidak bisa berkumpul dengan mereka karena aku harus pidah sekolah. Agar tidak
terlalau jauh maka aku di sekolahkan di deket rumah nenek. Aku tinggal dan
besar di sana. Sesekali orang tuaku datang menjengukku. Hatiku mengatakan ingin kumpul dengan mereka, namun aku tidak berani.
Hari-hari ku lalui selayaknya anak
pada umumnya. Bermain, sekolah, namun satu hal yang tidak pernah aku bisa lupakan
adalah ketika pembagian raport. Tidak pernah sekalipun diantara mereka yang
mengambilkan raportku. Hanya paman Rahamat yang selalu menyempatkan diri untuk
mewakili kedua orang tuaku. Mereka tidak pernah berpikir perasaan seorang anak
yang menghadiri acara pengambilan raport oleh orang tuanya sangat bahagia,
walaupun anak tersebut tidak menjadi juara. Namun karena kehadiran orang-orang
tercinta membuat hati merasa bahagia dan tidak bsia di ungkapkan dengan
kata-kata.
Paman Rahamat adalah saudara kandung
dari ibu. Beliau adalah anak paling kecil dari sembilan bersaudara. Dia juga
masih beumur sembilan belas tahun. Kesehariannya mengembala sapi dan kambing.
Terkadang aku juga membantunya. Dia orangnya sangat ta,at beribadah. Dialah
orang yang selalu mengajarkanku mengaji dan mengaharkan banayak hal tentang
agama. Sangat beruntung bagi perempuan yang kelak menjadi istrinya.
Dari sekolah dasar aku sudah
menjalani kebersamaan sama paman Rahmat. Beliau aku jadikan sebagai pengganti
ayahku dan nenekku menjadi pengganti ibuku. Paman Rahmat memanggilku Adnan.
Karena menurut dia namaku adalah salah satu nama syurga dan itu juga yang dikatakan
nenek. Paman Rahmatlah yang meberikanku nama yaitu Adnan Khiar Ardani yang
artinya laki-laki yang bagaikan syurga firdaus menjadi pilhan terbaik dan suci.
Sungguh indah namaku. Menggambarkan
keindahan syurga firdaus dan berharap mejalani kehidupan seperti syurga
firdaus. Harapan semua orang memang
selalau seperti itu. Berharap yang terbaik dalam kehidupanku selayaknya berada
pada syurga firdaus. Paman Rahmat senantiasa membimbing jalan hidupku supaya
kelak mejadi mansuia yang selalu hidup seperti di syurga firdaus. Tak pernah
lelah beliau membimbing hidupku. Bahkan sampai dia berumah tangga aku masih
bersamanya. Aku merasa aku memiliki keluarga utuh kembali.
Tidak sedikitpun aku melihat wajah
sedih dalam diri paman Rahmat. Bibirnya selalu tersirat senyum bahagia.
Hari-hari bersamanya selalu di bawa kedalam indahnya kuasa sang pencipta alam
semesta. Paman Rahmat panadi bercerita. Kisah para Nabi semuanya beliau bisa
ceritakan. Aku semakin senang bersama dengan dia. Terkadang sambil mengembala
sapi, dia bercerita dimana pada zaman para nabi dahulu juga sudah ada yang
namnya pengembala. Namun zaman beliau-beliau dulu kebanyak dari pengembala
sapi.
Sedikitpun rasa bosan tidak pernah
ada dalam hatiku ketika aku bersama paman Rahmat. Sampai disaat aku mau masuk
Sekolah Menengah Pertama, nenek meninggalkan kita untuk selamanya. Aku tidak
pernah melihat paman Rahmat sesedih hari itu. Matanya merah tidak pernah
berhenti menangis. Semua keluargaku hadir saat itu. Tidak seorangpun yang tidak
merasakan kesedihan. Tak terkecuali ibu. Semuanya merasa terpukul karena
kepergian nenek. Suasana duka menyelimuti keluarga ku. Paman Rahmat yang
dulunya selalu gembira berubah total. Beliau menjadi pendiam dan seakan enggan
untuk bertutur sapa sama siapaun yang ada hanya suasana duka dan haru
menyelimuti di hari itu.
Nenek sudah tidak bersama kita lagi,
kesedihan paman Rahmat mulai berkurang, meski belum sepenuhnya kembali pada
kkehidupanya yang penuh dengan kebahagiaan. Dari balik pintu ku dengar ibu
berbicara sama paman Rahmat.
“ Mat, .. ibu sudah tidak ada. Kamu
sudah punya tanggungan. Mbak malu Mat, Kalau Adnan masih sama kamu disini..”
kata ibu
“tidak apa-apa Mbak, Adnan sekarang
sudah besar. Aku sudah menanggap dia anakku. “
“Iya, tapi Mbak tahu kamu Mat, jadi
izinkanlah Adnan Mbak bawa. Walaupun kamu sedniri tahu keadaan Mbak mat..”
Semua terdiam. Aku menddengar semua pembicaraan ibu dan
paman Rahmat. Namun aku tidak pernah memahami maksdu dari perkataan ibu
terakhir. Hanya paman Rahmat merelakan aku ikut bersama ibu. Itu saja yang aku
fahami dari pembicaraan kedua orang yang begitu berarti dalam hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar