Jumat, 25 November 2016

CERPEN PERTAMA



"Jika ku tahu akan seperti ini tak mungkin ku berada dalam kondisi seperti ini”
“prang..prang.......!!
            Malam itu aku tak mengerti apa yang terjadi. Terbangun dengan keadaan setengah sadar sembari tergerus oleh tangan lembut yang selalau memberikan aku kasih sayang yang begitu tulus. Hanya suara tergopoh-gopoh yang terngiang dalam telingaku.
“Ayok Bangun kita pergi.....”
            Dengan malas aku terbangun, melihat sekeliling ruangan yang berantakan. Belahan cermin berserakan, belahan piring disana sini. Orang-orang sudah mulai terbangun dengan kegaduhan itu. Aku masih belum mengerti dan belum mengetahui apa yang sebeanrnaya terjadi. Aku ingin betanya tapi pada siapa aku harus bertanya. Semuanya terlihat memanas dan emosi.
            Apa yang terjadi. Satu kata yang selalau menghantui dalam fikiranku. Badan kecil yang hanya tertutup sarung tanpa baju, tanpa celana. Mengikuti jejak kaki wanita setengah baya sembari tergopoh gopoh berjalan menyibak kerumunan orang yang berdatangan. Entah itu menonton, prihatin, kasihan yang di rasakan orang-orang. Aku hanya mengikuti jejak langkah wanita itu. Tak perduli dengan waktu, tak perduli dengan asa, tak perduli dengan sekeliling. Yang ada hanya pergi meninggalkan tempat yang tadinya indah kini berantakan dengan serpihan-serpihan kaca yang berserakan.
            Aku tak pernah sadar apa yang terjadi malam itu. Tapi satu hal yang menjadi ingatanku bahwa malam itu terjadi pertengkaran hebat antara kedua orang tuaku. Saat itu pula terjadilah yang namanya pemutusan hubungan suami istri yang kebanyakan orang menyebutnya perceraian.
            Perceraian terjadi jika kedua pasangan menemukan ketidak cocokan dalam mengarungi hidup. Satu hal yang aku tahu tentang perceraian. Dan jika suatu ketika kembali adanya perhubungan maka itu yang dinamakan dengan rujuk. Itulah yang di alami orang tuaku. Sebulan lamanya kami berpisah dan kembali lagi kedua orang tuaku rujuk dan membangun kembali puing-puing keluarga yang dulunya berantakan oleh amarah sesaat yang mereka rasakan.
            Hal semacam itu sudah lumrah terjadi di desaku. Rasa amarah sesaat yang tidak bisa di hela sama emosi dan egois masing-masing menyebabkan subuah pemutusan hubungan yang bisa saja terjadi dalam hitungan waktu, hitungan hari bahkan hitungan bulan. Tapi yang jelas pemikiran semacam itu sering menghiasi kehidupan masyarakat di desaku. Tak tergkecuali wilayah yang menganut adat sasak ini menyuguhkan tradisi unik yang terkadang berbeda dari logoka orang-orang yang seperti aku.
            Rujuk terkadang menjadi momok menakutkan bagi kalangan orang-orang tertentu. Karena rujuk tidak akan bisa mengobati luka lama yang menyebabkan terjadinya perceraian pertama. Sebab luka lama tidak akan bisa sembuah sepenuhnya walaupun ada yang namanya kesempatan kedua. Pemikiran semacam itu sangat jarang terjadi di sekilingku. Masyarakat yang berada diantara dua sisi moderen dan keterbelakangan makana kehidupan zaman dulu menyebabkan pemikiran masih tetap berjalan di mana pada satu titik fokus yang kadang menyebabkan gejolak damai antara pikiran, perasaan, dan logika kehidupan.
            Hidup harus tetap berjalan. Apapaun yang akan terjadi, namun hidup tidak akan pernah berhenti jika perjalanan  hidupa berada pada titik fokus satu arah. Titik dimana yang menjadi tumpuan hidup tidak selamanya lurus. Mesti ada halangan yang menyebabkan titik fokus hidup itu harus berubah dengan sendirinya. Realita kehidupan dalam lingkungan harus serah dengan lingkungan yang berada dua langkah dari halaman rumah. Keramahan, tutur sapa yang semestinya berasal dari keikhlasan seakan tak pernah ada dalam lingkunganku.
            Penilan bukan hanya dari luar melainkan dari dalam. Itu memang pepatah yang lumrah terjadi, namun beda halnya dengan wilayah yang menjadi tempat tinggalku. Dimanan orang-orang yang bimbang membawa kehidupan semacam apa yang mereka inginkan. Terkadang bersikap moderen namun pemikiran masih jalan di belakang. Terkadang penilaian orang tidak selalu sama dengan apa yang menjadi kenyataan dalam hidup. Namun inilah wilayaku. Aku tidak bisa merubahnya seuai dengan apa yang aku inginkan.
            Inilah yang terjadi pada keluargaku. Bermula dari tutur sapa, ramah tamah tetanngga yang keseharian berintraksi bersama ternyata mengandung arti berbeda dari yang dibayangkan. inilah yang menyebabkan malam yang emosi itu terjadi. Bermula dari cibiran tetangga yang mengatakan ibuku haus akan uang, dan tidak bisa menyimpan uang, hanya bisa bersenang-senang membuat ayahku termakan oleh cibiran itu.
            Berselang satu bulan, orang tuaku kembali rujuk dan mengarungi kehidupan rumah tangga kembali. Dan aku menjadi korban ego dari keduanya. Aku tidak bisa berkumpul dengan mereka  karena aku harus pidah sekolah. Agar tidak terlalau jauh maka aku di sekolahkan di deket rumah nenek. Aku tinggal dan besar di sana. Sesekali orang tuaku datang menjengukku. Hatiku mengatakan  ingin kumpul dengan mereka, namun aku  tidak berani.
            Hari-hari ku lalui selayaknya anak pada umumnya. Bermain, sekolah, namun satu hal yang tidak pernah aku bisa lupakan adalah ketika pembagian raport. Tidak pernah sekalipun diantara mereka yang mengambilkan raportku. Hanya paman Rahamat yang selalu menyempatkan diri untuk mewakili kedua orang tuaku. Mereka tidak pernah berpikir perasaan seorang anak yang menghadiri acara pengambilan raport oleh orang tuanya sangat bahagia, walaupun anak tersebut tidak menjadi juara. Namun karena kehadiran orang-orang tercinta membuat hati merasa bahagia dan tidak bsia di ungkapkan dengan kata-kata.
            Paman Rahamat adalah saudara kandung dari ibu. Beliau adalah anak paling kecil dari sembilan bersaudara. Dia juga masih beumur sembilan belas tahun. Kesehariannya mengembala sapi dan kambing. Terkadang aku juga membantunya. Dia orangnya sangat ta,at beribadah. Dialah orang yang selalu mengajarkanku mengaji dan mengaharkan banayak hal tentang agama. Sangat beruntung bagi perempuan yang kelak menjadi istrinya.
            Dari sekolah dasar aku sudah menjalani kebersamaan sama paman Rahmat. Beliau aku jadikan sebagai pengganti ayahku dan nenekku menjadi pengganti ibuku. Paman Rahmat memanggilku Adnan. Karena menurut dia namaku adalah salah satu nama syurga dan itu juga yang dikatakan nenek. Paman Rahmatlah yang meberikanku nama yaitu Adnan Khiar Ardani yang artinya laki-laki yang bagaikan syurga firdaus menjadi pilhan terbaik dan suci.
            Sungguh indah namaku. Menggambarkan keindahan syurga firdaus dan berharap mejalani kehidupan seperti syurga firdaus.  Harapan semua orang memang selalau seperti itu. Berharap yang terbaik dalam kehidupanku selayaknya berada pada syurga firdaus. Paman Rahmat senantiasa membimbing jalan hidupku supaya kelak mejadi mansuia yang selalu hidup seperti di syurga firdaus. Tak pernah lelah beliau membimbing hidupku. Bahkan sampai dia berumah tangga aku masih bersamanya. Aku merasa aku memiliki keluarga utuh kembali.
            Tidak sedikitpun aku melihat wajah sedih dalam diri paman Rahmat. Bibirnya selalu tersirat senyum bahagia. Hari-hari bersamanya selalu di bawa kedalam indahnya kuasa sang pencipta alam semesta. Paman Rahmat panadi bercerita. Kisah para Nabi semuanya beliau bisa ceritakan. Aku semakin senang bersama dengan dia. Terkadang sambil mengembala sapi, dia bercerita dimana pada zaman para nabi dahulu juga sudah ada yang namnya pengembala. Namun zaman beliau-beliau dulu kebanyak dari pengembala sapi.
            Sedikitpun rasa bosan tidak pernah ada dalam hatiku ketika aku bersama paman Rahmat. Sampai disaat aku mau masuk Sekolah Menengah Pertama, nenek meninggalkan kita untuk selamanya. Aku tidak pernah melihat paman Rahmat sesedih hari itu. Matanya merah tidak pernah berhenti menangis. Semua keluargaku hadir saat itu. Tidak seorangpun yang tidak merasakan kesedihan. Tak terkecuali ibu. Semuanya merasa terpukul karena kepergian nenek. Suasana duka menyelimuti keluarga ku. Paman Rahmat yang dulunya selalu gembira berubah total. Beliau menjadi pendiam dan seakan enggan untuk bertutur sapa sama siapaun yang ada hanya suasana duka dan haru menyelimuti di hari itu.
            Nenek sudah tidak bersama kita lagi, kesedihan paman Rahmat mulai berkurang, meski belum sepenuhnya kembali pada kkehidupanya yang penuh dengan kebahagiaan. Dari balik pintu ku dengar ibu berbicara sama paman Rahmat.
            “ Mat, .. ibu sudah tidak ada. Kamu sudah punya tanggungan. Mbak malu Mat, Kalau Adnan masih sama kamu disini..” kata ibu
            “tidak apa-apa Mbak, Adnan sekarang sudah besar. Aku sudah menanggap dia anakku. “
            “Iya, tapi Mbak tahu kamu Mat, jadi izinkanlah Adnan Mbak bawa. Walaupun kamu sedniri tahu keadaan Mbak mat..”
            Semua terdiam. Aku menddengar semua pembicaraan ibu dan paman Rahmat. Namun aku tidak pernah memahami maksdu dari perkataan ibu terakhir. Hanya paman Rahmat merelakan aku ikut bersama ibu. Itu saja yang aku fahami dari pembicaraan kedua orang yang begitu berarti dalam hidupku.

PUISI UNTUK DIA

Untuk Dia. Dia yang tidak pernah ada ketika kamu membutuhkan seseorang Seseorang yang hanya bisa kau pandangi sesaat kemudian menghila...