Rabu, 20 Februari 2019

PUISI UNTUK DIA

Untuk Dia.

Dia yang tidak pernah ada ketika kamu membutuhkan seseorang
Seseorang yang hanya bisa kau pandangi sesaat kemudian menghilang.
Atau dia yang hanya singgah seperti benalu yang Rindu?

Berjalan seperti deru hujan yang membasahi bumi.
Meringis seperti ferimis yang telah mendahului hujan
Lalu mengapa kau ciptakan pelangai setelah keduanya berlalu?
Atau semua ini untuk Dia?

Dia yang kau Sebut dengan sebutan manja
Dia kau cumbu dengan rayuan gombalmu
Atau dia yang kau jamah dengan hiasan bunga cinta?
 Menukik indah dengan melepar jemari luka
setelah kau puas dengan serba serbi nuasan cinta yang kau dustai

Sungguh Untuk Dia.

Kau bebas dengan jemari Rasa, kau bebas dengan jemari luka
Bahkan kau bebas mengulur senja menjadi ceria yang penuh dengan duka nestapa.
Semua itu Sungguh untuk dia?

Untuk dia
Bukan dia
Atau Siapa dia

Kamis, 15 Juni 2017

UNTUK PEREMPUANKU




            Wajah usang, tangan yang penuh dengan oli masih mendekap di antara perut pemuda itu, baju lusuh senantiasa menempel di badan kurus itu. Bersandar di sebuh tembok lusuh berwarna putih gelap. Fikirannya entah kemana. Tergambar tanda tanya besar dari kepala pemuda itu. Raga yang berada dianta tempat berbau bensin, oli serta barang barang otomotif tidak pernah benar-benar dia rasakan, sebab kahaylan akan orang itu terus menjalar di fikirannya. “Ibuku sudah pergi” umpatan pemuda itu dengan nada suara lirih.
            Reza, pemuda yang selalu bebrusaha untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang polisi terkendala oleh keberadaan sng ibunya. Tahapan tes selalu di jalani, namun semua itu sia-sia belaka. Hanya karena keberadaan ibunya. Sesekali Reza merasa aneh dengan kondisinya. Merasa marah dengan keadaanya. Bahakan seandainya di bisa mengeluarkan penderitaan yang di rasanya, mungkin sudah tidak akan bisa terbendung lagi.
            Amarah yang selama itu dipendam akan hancur jika beban itu keluarkan. Namun Reza berusaha menyembunyikan kegagalan dalam kondisinya dengan senyum tak bermakna.
            “Tahun ini aku menyerah Van” keluh Reza pada temannya
            “Kenapa begitu Za?” tanya Alvan
            “Iya, aku optimis tapi ujung-ujungnya aku kehilangan rasa optimisku” jawab Reza
            “Sudahlah, coba saja sekali ini, siapa tahu aturan berubah lagi Za,”. Bujuk Alvan
            “Tidak, aku sudah tahu titik kelemahnku, dan aku akan memperbaikinya dulu di tahun ini” kata Reza
            Tahun-tahun lalu, Reza tidak pernah absen untuk mengikuti Tes kepolisian, namun tidak pernah berhasil karena kendala tersebut. Kini dia berniat untuk memperbaiki apa yang menjadi titik kelemahan yang dirasakan bebererapa tahun ini. Harpan Reza sungguh benar. Kini dia akan berusaha memperbaiki tempat dia tidak bisa lolos mengikuti tes tesebut.
            Hari berlalu, kini misi Reza akan dijalaninya. Dia tidak pernah benar-benar tahu kemana ibunya pergi. Cerita-demi cerita dia telusuri, namun semua itu kembali menjadi cerita usang yang tidak pernah ada petunjuk.
            “Aku lelah hidup begini, aku ingin merasakan itu, aku hanya ingin Ibuku kembali” curhat Reza pada pamannya.
            “Za, mungkin itu bukan jalan kamu, tapi mungkin inilah saatny kamu tahu kebenarnnya” kata pamanhya
            “Kebenaran apa paman?” Reza semakin penasaran
            “Kondisinya bermula dari kepercayaan terhdap omongan orang, ibumu dan ayahmu saling mencintai, tidak pernah terbesit bagi ayahmu untuk berpisah dengan ibumu, namun garis takdir tuhan berkata lain. Bencana itu datang, ibumu di kira berselingkuh dengan orang lain. Sementara Ayahmu masih berada di Malaysia. Ayahmu yang termakan omongan orang tidak bisa berkata apa-apa. Dia tidak pernah bisa mengambil keputusan itu. Namun karena ibumu tidak bisa bertahan dengan badai ujian itu, membuat dia gelap mata dan tanpa sepengetahuan keluarga meninggalkanmu untuk menjadi pahlawan devisa”. Tutur paman
            Sejek saat itulah, reza menemukan titik kuncinya. Reza berfikir keras untuk menemukan keberadaan ibunya. Sejak kelas empat sekolah dasar dia dan adiknya sudah merasakan kehilangan kasih sayang seorang ibu. kini dia semakin kehilangan dikala harus berjuang untuk menggapai cita-citanya. Perbedaan sangat dirasa, kala itu Reza belum sepenuhnya mengerti akan kehadiran sosok yang sudah melahirkannya. Kini rasa menegrti itu semakin kuat semakin ibunya tidak pernah ada kabar.
            Langkah awal yang dilakukan Reza adalah mencari keberadaan orang yang membawa ibunya menjadi pahlawan Devisa, namun hasilnya nihil. Orang tersebut sudah meninggal dunia. Kunci utama disarakan putus olehnya, harapan untuk memukan ibunya perlahan tertutup. Akal tidak akan pernah putus jika pemilik akal tidak mau berhenti untuk berikir. Benar saja, jalan itu benar adanya. Reza menemukan informasi nama perusahaan penyalur tenga kerja tersebut. Tanpa berlama-lama lagi, Reza mendatangi alamat tersebut.
            Jalan buntuk kembali ditempuh Reza, prusahaan tersebut sudah tutup sejak tiga tahun lalu. Kini Reza merasakan benar-benar akan kehilangan ibunya. Tergurat kepasrahan dalam wajahnya. Menerawang relung fikiran yang tidak pernah berujung. Orang yang selama ini menjadikan dia lahir kedunia entah dimana keberadaanya.
            “Sudah aku lakukan semuanya, aku hanya ingin dia kembali Ya Allah” rintihan Reza dalam doanya.
            Angannya masih menerawang, berfikir bagaimana caranya untuk menemukan Ibunya selalu berkecamuk dalam dirinya. Sampai akhirnya di menmukan cara dengan menyebarkan informasi ke media sosial. Jalan kembali terbuka dikala ada sesorang yang menyarankan untuk pengaduan ke lembaga yang mengurus terkait dengan kasus yang dialami ibunya Reza.
            Saran itu dilakukan Reza, kini di berusaha berurusan dengan Lembaga yang tidak pernah sama sekali dia datangi. Tekat dan keingin lebih besar dari pada rasa takut membuat dia berni mendatangi lemabaga itu. Ada sedikit ketakutan dalam dirinya. Pertama menginjakkan kaki. Reza sudah tidak bisa merasakan optimis, buyar angannya untuk mencari tahu keberadaan ibunya. Terbesit di hatinya untuk kembali. Namun angan itu urung terlaksana. Karena hati seorang ibu sangat dia harapkan selama ini. Rasa gemetaran Reza rasakan ketika mau bertanya kepada resepionisnya.
            “Permisi Mbak, ruang Pengaduan di sebelah mana?” tanyayanya
            “Pengaduan seperti apa itu Mas?’
            “Permasalahan Pahlawan Devisa” jawab Reza Singkat
            Perempuan berkerudung itu menunjukkan ruangan yang dimaksud Reza. Perasaan lega mulai dirsakannya. Namun masih ada rasa was-was dalam dirinya, dan rasa itu akan terjawab dari balik pintu tersebut. Reza mencoba mengetuk pintu dan terdengr suara laki-laki yang menyuruh masuk.
            “Ada yang bisa saya bantu Dek?”Tanya orang itu dengan ramahnya
            Keramahan itu membuat Reza semakin Lega dan memulai menceritakan apa yang selama ini di cari dan dia inginkan terhdapa ibunya. Tidak ada satupun yang di hilangkan Reza dari cerita-cerita yang dia dapatkan. Karena hanya inilah harpan yang Reza miliki untuk bertemu dengan sang ibuda.
            “Permsalahan ibumu cukup rumit dek,” bapak itu memotong ceritanya Reza
            “Kenapa pak?”
            “Dari data kami, perusahan penyalur yang membawa ibumu ke Malaysia tidak terdaftar dan tidak memiliki izin rekrut. Jadi bisa di katakan masalah ibu ini termasuk dalam jual beli manusia”. Papar bapak itu
            Reza terngangah dengan jawaban yang diberikan oleh lembaga pengaduan tersebut. Kini reza tidak tahu harus berbuat apa dan dengan cara apa untuk menolong ibunya.
            “Dek, sebaiknya adik segera lapor polisi, karena maaf kami tidak bisa membantu lebih banyak. Tapi kami akan berusaha menghubungi adik jika nanti kami ada kabar keberadaan ibumu. Karena kami juga sudah menyebarkan informasi ini kepada pihak kami yang berada di Malaysia sana.” Tambah bapak itu.
            Reza berterima kasih dan meninggalkan tempat itu. Kini tinggal harpan terakhir adalah mendatangi pihak kepolisian atas permasalah yang dialami ibunya. Hari itu juga Reza langsung mendatangi pihak kepolisian. Namun harapan itu semakin menemukan jalan buntu di karenakan jawaban dari bapak-bapak penegak hukum.
            “Maaf dek, laporan yang adik ajukan tidak bisa kami proses, karena menurut prosedur, bukti yang adik bawakan tidak bersifat kuat”
            Sejak saat itulah Reza mengubur impian dan cita-citanya menjadi seorang polisi. Kekecewaan atas jawaban itu menjadi titik tombak pencariannya. Rasa marah dan dendam itu selalu menjadi momok menakutkan yang terdakang dirasakannya. Semuanya di persalahkan namun apa daya. Kini wanita mulia itu entah diamna keberadaannya. Hanya berharap pada yang punya hidup untuk di pertemukan. Entah itu dalam keadaan benafas atau dalam sekujur bangkai. Semua itu akan Reza terima dengan penuh rasa lapang dada, asal wanita mulia itu banar-benar dia bisa lihat dan bisa dia cium meski untuk terakhir kalinya. “Penanatian itu akan tetap ada bagimu bunda” lirih Reza Sedih
Lombok Tengah, 10 April 2017
Muhamad Turmuzi

Jumat, 25 November 2016

CERPEN PERTAMA



"Jika ku tahu akan seperti ini tak mungkin ku berada dalam kondisi seperti ini”
“prang..prang.......!!
            Malam itu aku tak mengerti apa yang terjadi. Terbangun dengan keadaan setengah sadar sembari tergerus oleh tangan lembut yang selalau memberikan aku kasih sayang yang begitu tulus. Hanya suara tergopoh-gopoh yang terngiang dalam telingaku.
“Ayok Bangun kita pergi.....”
            Dengan malas aku terbangun, melihat sekeliling ruangan yang berantakan. Belahan cermin berserakan, belahan piring disana sini. Orang-orang sudah mulai terbangun dengan kegaduhan itu. Aku masih belum mengerti dan belum mengetahui apa yang sebeanrnaya terjadi. Aku ingin betanya tapi pada siapa aku harus bertanya. Semuanya terlihat memanas dan emosi.
            Apa yang terjadi. Satu kata yang selalau menghantui dalam fikiranku. Badan kecil yang hanya tertutup sarung tanpa baju, tanpa celana. Mengikuti jejak kaki wanita setengah baya sembari tergopoh gopoh berjalan menyibak kerumunan orang yang berdatangan. Entah itu menonton, prihatin, kasihan yang di rasakan orang-orang. Aku hanya mengikuti jejak langkah wanita itu. Tak perduli dengan waktu, tak perduli dengan asa, tak perduli dengan sekeliling. Yang ada hanya pergi meninggalkan tempat yang tadinya indah kini berantakan dengan serpihan-serpihan kaca yang berserakan.
            Aku tak pernah sadar apa yang terjadi malam itu. Tapi satu hal yang menjadi ingatanku bahwa malam itu terjadi pertengkaran hebat antara kedua orang tuaku. Saat itu pula terjadilah yang namanya pemutusan hubungan suami istri yang kebanyakan orang menyebutnya perceraian.
            Perceraian terjadi jika kedua pasangan menemukan ketidak cocokan dalam mengarungi hidup. Satu hal yang aku tahu tentang perceraian. Dan jika suatu ketika kembali adanya perhubungan maka itu yang dinamakan dengan rujuk. Itulah yang di alami orang tuaku. Sebulan lamanya kami berpisah dan kembali lagi kedua orang tuaku rujuk dan membangun kembali puing-puing keluarga yang dulunya berantakan oleh amarah sesaat yang mereka rasakan.
            Hal semacam itu sudah lumrah terjadi di desaku. Rasa amarah sesaat yang tidak bisa di hela sama emosi dan egois masing-masing menyebabkan subuah pemutusan hubungan yang bisa saja terjadi dalam hitungan waktu, hitungan hari bahkan hitungan bulan. Tapi yang jelas pemikiran semacam itu sering menghiasi kehidupan masyarakat di desaku. Tak tergkecuali wilayah yang menganut adat sasak ini menyuguhkan tradisi unik yang terkadang berbeda dari logoka orang-orang yang seperti aku.
            Rujuk terkadang menjadi momok menakutkan bagi kalangan orang-orang tertentu. Karena rujuk tidak akan bisa mengobati luka lama yang menyebabkan terjadinya perceraian pertama. Sebab luka lama tidak akan bisa sembuah sepenuhnya walaupun ada yang namanya kesempatan kedua. Pemikiran semacam itu sangat jarang terjadi di sekilingku. Masyarakat yang berada diantara dua sisi moderen dan keterbelakangan makana kehidupan zaman dulu menyebabkan pemikiran masih tetap berjalan di mana pada satu titik fokus yang kadang menyebabkan gejolak damai antara pikiran, perasaan, dan logika kehidupan.
            Hidup harus tetap berjalan. Apapaun yang akan terjadi, namun hidup tidak akan pernah berhenti jika perjalanan  hidupa berada pada titik fokus satu arah. Titik dimana yang menjadi tumpuan hidup tidak selamanya lurus. Mesti ada halangan yang menyebabkan titik fokus hidup itu harus berubah dengan sendirinya. Realita kehidupan dalam lingkungan harus serah dengan lingkungan yang berada dua langkah dari halaman rumah. Keramahan, tutur sapa yang semestinya berasal dari keikhlasan seakan tak pernah ada dalam lingkunganku.
            Penilan bukan hanya dari luar melainkan dari dalam. Itu memang pepatah yang lumrah terjadi, namun beda halnya dengan wilayah yang menjadi tempat tinggalku. Dimanan orang-orang yang bimbang membawa kehidupan semacam apa yang mereka inginkan. Terkadang bersikap moderen namun pemikiran masih jalan di belakang. Terkadang penilaian orang tidak selalu sama dengan apa yang menjadi kenyataan dalam hidup. Namun inilah wilayaku. Aku tidak bisa merubahnya seuai dengan apa yang aku inginkan.
            Inilah yang terjadi pada keluargaku. Bermula dari tutur sapa, ramah tamah tetanngga yang keseharian berintraksi bersama ternyata mengandung arti berbeda dari yang dibayangkan. inilah yang menyebabkan malam yang emosi itu terjadi. Bermula dari cibiran tetangga yang mengatakan ibuku haus akan uang, dan tidak bisa menyimpan uang, hanya bisa bersenang-senang membuat ayahku termakan oleh cibiran itu.
            Berselang satu bulan, orang tuaku kembali rujuk dan mengarungi kehidupan rumah tangga kembali. Dan aku menjadi korban ego dari keduanya. Aku tidak bisa berkumpul dengan mereka  karena aku harus pidah sekolah. Agar tidak terlalau jauh maka aku di sekolahkan di deket rumah nenek. Aku tinggal dan besar di sana. Sesekali orang tuaku datang menjengukku. Hatiku mengatakan  ingin kumpul dengan mereka, namun aku  tidak berani.
            Hari-hari ku lalui selayaknya anak pada umumnya. Bermain, sekolah, namun satu hal yang tidak pernah aku bisa lupakan adalah ketika pembagian raport. Tidak pernah sekalipun diantara mereka yang mengambilkan raportku. Hanya paman Rahamat yang selalu menyempatkan diri untuk mewakili kedua orang tuaku. Mereka tidak pernah berpikir perasaan seorang anak yang menghadiri acara pengambilan raport oleh orang tuanya sangat bahagia, walaupun anak tersebut tidak menjadi juara. Namun karena kehadiran orang-orang tercinta membuat hati merasa bahagia dan tidak bsia di ungkapkan dengan kata-kata.
            Paman Rahamat adalah saudara kandung dari ibu. Beliau adalah anak paling kecil dari sembilan bersaudara. Dia juga masih beumur sembilan belas tahun. Kesehariannya mengembala sapi dan kambing. Terkadang aku juga membantunya. Dia orangnya sangat ta,at beribadah. Dialah orang yang selalu mengajarkanku mengaji dan mengaharkan banayak hal tentang agama. Sangat beruntung bagi perempuan yang kelak menjadi istrinya.
            Dari sekolah dasar aku sudah menjalani kebersamaan sama paman Rahmat. Beliau aku jadikan sebagai pengganti ayahku dan nenekku menjadi pengganti ibuku. Paman Rahmat memanggilku Adnan. Karena menurut dia namaku adalah salah satu nama syurga dan itu juga yang dikatakan nenek. Paman Rahmatlah yang meberikanku nama yaitu Adnan Khiar Ardani yang artinya laki-laki yang bagaikan syurga firdaus menjadi pilhan terbaik dan suci.
            Sungguh indah namaku. Menggambarkan keindahan syurga firdaus dan berharap mejalani kehidupan seperti syurga firdaus.  Harapan semua orang memang selalau seperti itu. Berharap yang terbaik dalam kehidupanku selayaknya berada pada syurga firdaus. Paman Rahmat senantiasa membimbing jalan hidupku supaya kelak mejadi mansuia yang selalu hidup seperti di syurga firdaus. Tak pernah lelah beliau membimbing hidupku. Bahkan sampai dia berumah tangga aku masih bersamanya. Aku merasa aku memiliki keluarga utuh kembali.
            Tidak sedikitpun aku melihat wajah sedih dalam diri paman Rahmat. Bibirnya selalu tersirat senyum bahagia. Hari-hari bersamanya selalu di bawa kedalam indahnya kuasa sang pencipta alam semesta. Paman Rahmat panadi bercerita. Kisah para Nabi semuanya beliau bisa ceritakan. Aku semakin senang bersama dengan dia. Terkadang sambil mengembala sapi, dia bercerita dimana pada zaman para nabi dahulu juga sudah ada yang namnya pengembala. Namun zaman beliau-beliau dulu kebanyak dari pengembala sapi.
            Sedikitpun rasa bosan tidak pernah ada dalam hatiku ketika aku bersama paman Rahmat. Sampai disaat aku mau masuk Sekolah Menengah Pertama, nenek meninggalkan kita untuk selamanya. Aku tidak pernah melihat paman Rahmat sesedih hari itu. Matanya merah tidak pernah berhenti menangis. Semua keluargaku hadir saat itu. Tidak seorangpun yang tidak merasakan kesedihan. Tak terkecuali ibu. Semuanya merasa terpukul karena kepergian nenek. Suasana duka menyelimuti keluarga ku. Paman Rahmat yang dulunya selalu gembira berubah total. Beliau menjadi pendiam dan seakan enggan untuk bertutur sapa sama siapaun yang ada hanya suasana duka dan haru menyelimuti di hari itu.
            Nenek sudah tidak bersama kita lagi, kesedihan paman Rahmat mulai berkurang, meski belum sepenuhnya kembali pada kkehidupanya yang penuh dengan kebahagiaan. Dari balik pintu ku dengar ibu berbicara sama paman Rahmat.
            “ Mat, .. ibu sudah tidak ada. Kamu sudah punya tanggungan. Mbak malu Mat, Kalau Adnan masih sama kamu disini..” kata ibu
            “tidak apa-apa Mbak, Adnan sekarang sudah besar. Aku sudah menanggap dia anakku. “
            “Iya, tapi Mbak tahu kamu Mat, jadi izinkanlah Adnan Mbak bawa. Walaupun kamu sedniri tahu keadaan Mbak mat..”
            Semua terdiam. Aku menddengar semua pembicaraan ibu dan paman Rahmat. Namun aku tidak pernah memahami maksdu dari perkataan ibu terakhir. Hanya paman Rahmat merelakan aku ikut bersama ibu. Itu saja yang aku fahami dari pembicaraan kedua orang yang begitu berarti dalam hidupku.

PUISI UNTUK DIA

Untuk Dia. Dia yang tidak pernah ada ketika kamu membutuhkan seseorang Seseorang yang hanya bisa kau pandangi sesaat kemudian menghila...