Wajah usang, tangan yang penuh
dengan oli masih mendekap di antara perut pemuda itu, baju lusuh senantiasa
menempel di badan kurus itu. Bersandar di sebuh tembok lusuh berwarna putih
gelap. Fikirannya entah kemana. Tergambar tanda tanya besar dari kepala pemuda
itu. Raga yang berada dianta tempat berbau bensin, oli serta barang barang
otomotif tidak pernah benar-benar dia rasakan, sebab kahaylan akan orang itu
terus menjalar di fikirannya. “Ibuku sudah pergi” umpatan pemuda itu dengan
nada suara lirih.
Reza, pemuda yang selalu bebrusaha
untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang polisi terkendala oleh keberadaan
sng ibunya. Tahapan tes selalu di jalani, namun semua itu sia-sia belaka. Hanya
karena keberadaan ibunya. Sesekali Reza merasa aneh dengan kondisinya. Merasa
marah dengan keadaanya. Bahakan seandainya di bisa mengeluarkan penderitaan
yang di rasanya, mungkin sudah tidak akan bisa terbendung lagi.
Amarah yang selama itu dipendam akan
hancur jika beban itu keluarkan. Namun Reza berusaha menyembunyikan kegagalan
dalam kondisinya dengan senyum tak bermakna.
“Tahun ini aku menyerah Van” keluh
Reza pada temannya
“Kenapa begitu Za?” tanya Alvan
“Iya, aku optimis tapi
ujung-ujungnya aku kehilangan rasa optimisku” jawab Reza
“Sudahlah, coba saja sekali ini,
siapa tahu aturan berubah lagi Za,”. Bujuk Alvan
“Tidak, aku sudah tahu titik
kelemahnku, dan aku akan memperbaikinya dulu di tahun ini” kata Reza
Tahun-tahun lalu, Reza tidak pernah
absen untuk mengikuti Tes kepolisian, namun tidak pernah berhasil karena
kendala tersebut. Kini dia berniat untuk memperbaiki apa yang menjadi titik
kelemahan yang dirasakan bebererapa tahun ini. Harpan Reza sungguh benar. Kini
dia akan berusaha memperbaiki tempat dia tidak bisa lolos mengikuti tes
tesebut.
Hari berlalu, kini misi Reza akan
dijalaninya. Dia tidak pernah benar-benar tahu kemana ibunya pergi. Cerita-demi
cerita dia telusuri, namun semua itu kembali menjadi cerita usang yang tidak
pernah ada petunjuk.
“Aku lelah hidup begini, aku ingin
merasakan itu, aku hanya ingin Ibuku kembali” curhat Reza pada pamannya.
“Za, mungkin itu bukan jalan kamu,
tapi mungkin inilah saatny kamu tahu kebenarnnya” kata pamanhya
“Kebenaran apa paman?” Reza semakin
penasaran
“Kondisinya bermula dari kepercayaan
terhdap omongan orang, ibumu dan ayahmu saling mencintai, tidak pernah terbesit
bagi ayahmu untuk berpisah dengan ibumu, namun garis takdir tuhan berkata lain.
Bencana itu datang, ibumu di kira berselingkuh dengan orang lain. Sementara
Ayahmu masih berada di Malaysia. Ayahmu yang termakan omongan orang tidak bisa berkata
apa-apa. Dia tidak pernah bisa mengambil keputusan itu. Namun karena ibumu
tidak bisa bertahan dengan badai ujian itu, membuat dia gelap mata dan tanpa
sepengetahuan keluarga meninggalkanmu untuk menjadi pahlawan devisa”. Tutur
paman
Sejek saat itulah, reza menemukan
titik kuncinya. Reza berfikir keras untuk menemukan keberadaan ibunya. Sejak
kelas empat sekolah dasar dia dan adiknya sudah merasakan kehilangan kasih
sayang seorang ibu. kini dia semakin kehilangan dikala harus berjuang untuk
menggapai cita-citanya. Perbedaan sangat dirasa, kala itu Reza belum sepenuhnya
mengerti akan kehadiran sosok yang sudah melahirkannya. Kini rasa menegrti itu
semakin kuat semakin ibunya tidak pernah ada kabar.
Langkah awal yang dilakukan Reza
adalah mencari keberadaan orang yang membawa ibunya menjadi pahlawan Devisa,
namun hasilnya nihil. Orang tersebut sudah meninggal dunia. Kunci utama
disarakan putus olehnya, harapan untuk memukan ibunya perlahan tertutup. Akal
tidak akan pernah putus jika pemilik akal tidak mau berhenti untuk berikir.
Benar saja, jalan itu benar adanya. Reza menemukan informasi nama perusahaan
penyalur tenga kerja tersebut. Tanpa berlama-lama lagi, Reza mendatangi alamat
tersebut.
Jalan buntuk kembali ditempuh Reza,
prusahaan tersebut sudah tutup sejak tiga tahun lalu. Kini Reza merasakan
benar-benar akan kehilangan ibunya. Tergurat kepasrahan dalam wajahnya.
Menerawang relung fikiran yang tidak pernah berujung. Orang yang selama ini
menjadikan dia lahir kedunia entah dimana keberadaanya.
“Sudah aku lakukan semuanya, aku
hanya ingin dia kembali Ya Allah” rintihan Reza dalam doanya.
Angannya masih menerawang, berfikir
bagaimana caranya untuk menemukan Ibunya selalu berkecamuk dalam dirinya. Sampai
akhirnya di menmukan cara dengan menyebarkan informasi ke media sosial. Jalan
kembali terbuka dikala ada sesorang yang menyarankan untuk pengaduan ke lembaga
yang mengurus terkait dengan kasus yang dialami ibunya Reza.
Saran itu dilakukan Reza, kini di berusaha
berurusan dengan Lembaga yang tidak pernah sama sekali dia datangi. Tekat dan
keingin lebih besar dari pada rasa takut membuat dia berni mendatangi lemabaga
itu. Ada sedikit ketakutan dalam dirinya. Pertama menginjakkan kaki. Reza sudah
tidak bisa merasakan optimis, buyar angannya untuk mencari tahu keberadaan
ibunya. Terbesit di hatinya untuk kembali. Namun angan itu urung terlaksana.
Karena hati seorang ibu sangat dia harapkan selama ini. Rasa gemetaran Reza
rasakan ketika mau bertanya kepada resepionisnya.
“Permisi Mbak, ruang Pengaduan di
sebelah mana?” tanyayanya
“Pengaduan seperti apa itu Mas?’
“Permasalahan Pahlawan Devisa” jawab
Reza Singkat
Perempuan berkerudung itu
menunjukkan ruangan yang dimaksud Reza. Perasaan lega mulai dirsakannya. Namun
masih ada rasa was-was dalam dirinya, dan rasa itu akan terjawab dari balik pintu
tersebut. Reza mencoba mengetuk pintu dan terdengr suara laki-laki yang
menyuruh masuk.
“Ada yang bisa saya bantu Dek?”Tanya
orang itu dengan ramahnya
Keramahan itu membuat Reza semakin
Lega dan memulai menceritakan apa yang selama ini di cari dan dia inginkan
terhdapa ibunya. Tidak ada satupun yang di hilangkan Reza dari cerita-cerita
yang dia dapatkan. Karena hanya inilah harpan yang Reza miliki untuk bertemu
dengan sang ibuda.
“Permsalahan ibumu cukup rumit dek,”
bapak itu memotong ceritanya Reza
“Kenapa pak?”
“Dari data kami, perusahan penyalur
yang membawa ibumu ke Malaysia tidak terdaftar dan tidak memiliki izin rekrut.
Jadi bisa di katakan masalah ibu ini termasuk dalam jual beli manusia”. Papar
bapak itu
Reza terngangah dengan jawaban yang
diberikan oleh lembaga pengaduan tersebut. Kini reza tidak tahu harus berbuat
apa dan dengan cara apa untuk menolong ibunya.
“Dek, sebaiknya adik segera lapor
polisi, karena maaf kami tidak bisa membantu lebih banyak. Tapi kami akan
berusaha menghubungi adik jika nanti kami ada kabar keberadaan ibumu. Karena
kami juga sudah menyebarkan informasi ini kepada pihak kami yang berada di
Malaysia sana.” Tambah bapak itu.
Reza berterima kasih dan
meninggalkan tempat itu. Kini tinggal harpan terakhir adalah mendatangi pihak
kepolisian atas permasalah yang dialami ibunya. Hari itu juga Reza langsung
mendatangi pihak kepolisian. Namun harapan itu semakin menemukan jalan buntu di
karenakan jawaban dari bapak-bapak penegak hukum.
“Maaf dek, laporan yang adik ajukan
tidak bisa kami proses, karena menurut prosedur, bukti yang adik bawakan tidak
bersifat kuat”
Sejak saat itulah Reza mengubur impian
dan cita-citanya menjadi seorang polisi. Kekecewaan atas jawaban itu menjadi
titik tombak pencariannya. Rasa marah dan dendam itu selalu menjadi momok
menakutkan yang terdakang dirasakannya. Semuanya di persalahkan namun apa daya.
Kini wanita mulia itu entah diamna keberadaannya. Hanya berharap pada yang
punya hidup untuk di pertemukan. Entah itu dalam keadaan benafas atau dalam
sekujur bangkai. Semua itu akan Reza terima dengan penuh rasa lapang dada, asal
wanita mulia itu banar-benar dia bisa lihat dan bisa dia cium meski untuk
terakhir kalinya. “Penanatian itu akan tetap ada bagimu bunda” lirih Reza Sedih
Lombok
Tengah, 10 April 2017
Muhamad
Turmuzi