Kamis, 15 Juni 2017

UNTUK PEREMPUANKU




            Wajah usang, tangan yang penuh dengan oli masih mendekap di antara perut pemuda itu, baju lusuh senantiasa menempel di badan kurus itu. Bersandar di sebuh tembok lusuh berwarna putih gelap. Fikirannya entah kemana. Tergambar tanda tanya besar dari kepala pemuda itu. Raga yang berada dianta tempat berbau bensin, oli serta barang barang otomotif tidak pernah benar-benar dia rasakan, sebab kahaylan akan orang itu terus menjalar di fikirannya. “Ibuku sudah pergi” umpatan pemuda itu dengan nada suara lirih.
            Reza, pemuda yang selalu bebrusaha untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang polisi terkendala oleh keberadaan sng ibunya. Tahapan tes selalu di jalani, namun semua itu sia-sia belaka. Hanya karena keberadaan ibunya. Sesekali Reza merasa aneh dengan kondisinya. Merasa marah dengan keadaanya. Bahakan seandainya di bisa mengeluarkan penderitaan yang di rasanya, mungkin sudah tidak akan bisa terbendung lagi.
            Amarah yang selama itu dipendam akan hancur jika beban itu keluarkan. Namun Reza berusaha menyembunyikan kegagalan dalam kondisinya dengan senyum tak bermakna.
            “Tahun ini aku menyerah Van” keluh Reza pada temannya
            “Kenapa begitu Za?” tanya Alvan
            “Iya, aku optimis tapi ujung-ujungnya aku kehilangan rasa optimisku” jawab Reza
            “Sudahlah, coba saja sekali ini, siapa tahu aturan berubah lagi Za,”. Bujuk Alvan
            “Tidak, aku sudah tahu titik kelemahnku, dan aku akan memperbaikinya dulu di tahun ini” kata Reza
            Tahun-tahun lalu, Reza tidak pernah absen untuk mengikuti Tes kepolisian, namun tidak pernah berhasil karena kendala tersebut. Kini dia berniat untuk memperbaiki apa yang menjadi titik kelemahan yang dirasakan bebererapa tahun ini. Harpan Reza sungguh benar. Kini dia akan berusaha memperbaiki tempat dia tidak bisa lolos mengikuti tes tesebut.
            Hari berlalu, kini misi Reza akan dijalaninya. Dia tidak pernah benar-benar tahu kemana ibunya pergi. Cerita-demi cerita dia telusuri, namun semua itu kembali menjadi cerita usang yang tidak pernah ada petunjuk.
            “Aku lelah hidup begini, aku ingin merasakan itu, aku hanya ingin Ibuku kembali” curhat Reza pada pamannya.
            “Za, mungkin itu bukan jalan kamu, tapi mungkin inilah saatny kamu tahu kebenarnnya” kata pamanhya
            “Kebenaran apa paman?” Reza semakin penasaran
            “Kondisinya bermula dari kepercayaan terhdap omongan orang, ibumu dan ayahmu saling mencintai, tidak pernah terbesit bagi ayahmu untuk berpisah dengan ibumu, namun garis takdir tuhan berkata lain. Bencana itu datang, ibumu di kira berselingkuh dengan orang lain. Sementara Ayahmu masih berada di Malaysia. Ayahmu yang termakan omongan orang tidak bisa berkata apa-apa. Dia tidak pernah bisa mengambil keputusan itu. Namun karena ibumu tidak bisa bertahan dengan badai ujian itu, membuat dia gelap mata dan tanpa sepengetahuan keluarga meninggalkanmu untuk menjadi pahlawan devisa”. Tutur paman
            Sejek saat itulah, reza menemukan titik kuncinya. Reza berfikir keras untuk menemukan keberadaan ibunya. Sejak kelas empat sekolah dasar dia dan adiknya sudah merasakan kehilangan kasih sayang seorang ibu. kini dia semakin kehilangan dikala harus berjuang untuk menggapai cita-citanya. Perbedaan sangat dirasa, kala itu Reza belum sepenuhnya mengerti akan kehadiran sosok yang sudah melahirkannya. Kini rasa menegrti itu semakin kuat semakin ibunya tidak pernah ada kabar.
            Langkah awal yang dilakukan Reza adalah mencari keberadaan orang yang membawa ibunya menjadi pahlawan Devisa, namun hasilnya nihil. Orang tersebut sudah meninggal dunia. Kunci utama disarakan putus olehnya, harapan untuk memukan ibunya perlahan tertutup. Akal tidak akan pernah putus jika pemilik akal tidak mau berhenti untuk berikir. Benar saja, jalan itu benar adanya. Reza menemukan informasi nama perusahaan penyalur tenga kerja tersebut. Tanpa berlama-lama lagi, Reza mendatangi alamat tersebut.
            Jalan buntuk kembali ditempuh Reza, prusahaan tersebut sudah tutup sejak tiga tahun lalu. Kini Reza merasakan benar-benar akan kehilangan ibunya. Tergurat kepasrahan dalam wajahnya. Menerawang relung fikiran yang tidak pernah berujung. Orang yang selama ini menjadikan dia lahir kedunia entah dimana keberadaanya.
            “Sudah aku lakukan semuanya, aku hanya ingin dia kembali Ya Allah” rintihan Reza dalam doanya.
            Angannya masih menerawang, berfikir bagaimana caranya untuk menemukan Ibunya selalu berkecamuk dalam dirinya. Sampai akhirnya di menmukan cara dengan menyebarkan informasi ke media sosial. Jalan kembali terbuka dikala ada sesorang yang menyarankan untuk pengaduan ke lembaga yang mengurus terkait dengan kasus yang dialami ibunya Reza.
            Saran itu dilakukan Reza, kini di berusaha berurusan dengan Lembaga yang tidak pernah sama sekali dia datangi. Tekat dan keingin lebih besar dari pada rasa takut membuat dia berni mendatangi lemabaga itu. Ada sedikit ketakutan dalam dirinya. Pertama menginjakkan kaki. Reza sudah tidak bisa merasakan optimis, buyar angannya untuk mencari tahu keberadaan ibunya. Terbesit di hatinya untuk kembali. Namun angan itu urung terlaksana. Karena hati seorang ibu sangat dia harapkan selama ini. Rasa gemetaran Reza rasakan ketika mau bertanya kepada resepionisnya.
            “Permisi Mbak, ruang Pengaduan di sebelah mana?” tanyayanya
            “Pengaduan seperti apa itu Mas?’
            “Permasalahan Pahlawan Devisa” jawab Reza Singkat
            Perempuan berkerudung itu menunjukkan ruangan yang dimaksud Reza. Perasaan lega mulai dirsakannya. Namun masih ada rasa was-was dalam dirinya, dan rasa itu akan terjawab dari balik pintu tersebut. Reza mencoba mengetuk pintu dan terdengr suara laki-laki yang menyuruh masuk.
            “Ada yang bisa saya bantu Dek?”Tanya orang itu dengan ramahnya
            Keramahan itu membuat Reza semakin Lega dan memulai menceritakan apa yang selama ini di cari dan dia inginkan terhdapa ibunya. Tidak ada satupun yang di hilangkan Reza dari cerita-cerita yang dia dapatkan. Karena hanya inilah harpan yang Reza miliki untuk bertemu dengan sang ibuda.
            “Permsalahan ibumu cukup rumit dek,” bapak itu memotong ceritanya Reza
            “Kenapa pak?”
            “Dari data kami, perusahan penyalur yang membawa ibumu ke Malaysia tidak terdaftar dan tidak memiliki izin rekrut. Jadi bisa di katakan masalah ibu ini termasuk dalam jual beli manusia”. Papar bapak itu
            Reza terngangah dengan jawaban yang diberikan oleh lembaga pengaduan tersebut. Kini reza tidak tahu harus berbuat apa dan dengan cara apa untuk menolong ibunya.
            “Dek, sebaiknya adik segera lapor polisi, karena maaf kami tidak bisa membantu lebih banyak. Tapi kami akan berusaha menghubungi adik jika nanti kami ada kabar keberadaan ibumu. Karena kami juga sudah menyebarkan informasi ini kepada pihak kami yang berada di Malaysia sana.” Tambah bapak itu.
            Reza berterima kasih dan meninggalkan tempat itu. Kini tinggal harpan terakhir adalah mendatangi pihak kepolisian atas permasalah yang dialami ibunya. Hari itu juga Reza langsung mendatangi pihak kepolisian. Namun harapan itu semakin menemukan jalan buntu di karenakan jawaban dari bapak-bapak penegak hukum.
            “Maaf dek, laporan yang adik ajukan tidak bisa kami proses, karena menurut prosedur, bukti yang adik bawakan tidak bersifat kuat”
            Sejak saat itulah Reza mengubur impian dan cita-citanya menjadi seorang polisi. Kekecewaan atas jawaban itu menjadi titik tombak pencariannya. Rasa marah dan dendam itu selalu menjadi momok menakutkan yang terdakang dirasakannya. Semuanya di persalahkan namun apa daya. Kini wanita mulia itu entah diamna keberadaannya. Hanya berharap pada yang punya hidup untuk di pertemukan. Entah itu dalam keadaan benafas atau dalam sekujur bangkai. Semua itu akan Reza terima dengan penuh rasa lapang dada, asal wanita mulia itu banar-benar dia bisa lihat dan bisa dia cium meski untuk terakhir kalinya. “Penanatian itu akan tetap ada bagimu bunda” lirih Reza Sedih
Lombok Tengah, 10 April 2017
Muhamad Turmuzi

PUISI UNTUK DIA

Untuk Dia. Dia yang tidak pernah ada ketika kamu membutuhkan seseorang Seseorang yang hanya bisa kau pandangi sesaat kemudian menghila...